Selasa, 23 Agustus 2011

SURAH AL-AN'AM, 6: 162-163 TENTANG KEIKHLASAN BERIBADAH

Terjemahan Ayat :

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”(Q.S. Al-An'am, 6: 162-163)

Kesimpulan isi kandungan ayat Al-Qur'an tersebut adalah :

=> Suruhan Allah SWT kepada setiap individu manusia (Muslim/Muslimah) untuk berkeyakinan bahwa shalatnya, hidupnya, dan matinya adalah semata-mata untuk Allah SWT.

=> Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan Pencipta, Pemilihara, serta Pengatur alam semesta berikut segala isinya.

=> Suruhan Allah SWT kepada setiap individu manusia (Muslim/Muslimah) untuk berlaku ikhlas dalam berkeyakinan (berakidah), beribadah, dan beramal, serta menjadi orang pertama dalam kaumnya yang berserah diri kepada-Nya.

Muslim/Muslimah yang memahami dan mengamalkan kandungan Surah Al-An'am, 6: 162-163 tentu akan bersikap dan berperilaku seperti berikut:

a. Menyerahkan hidup dan matinya kepada Allah SWT. Selama hayat di kandung badan ia akan menghambakan diri kepada Allah SWT, dengan jalan mentaati segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

b. Memilihara diri dari bersikap dan berperilaku syirik, yakni menyekutukan Allah SWT seperti; meminta pertolongan kepada arwah orang mati, memuja senjata dan aljimat, serta menyembah sesama makhluk karena menganggapnya dapat memberikan mudarat dan manfaat dalam berbagai urusan. Ia tidak akan bersikap dan berperilaku syirik karena menyadari bahwa syirik merupakan dosa besar yang paling berat, sehingga pelakunya tidak akan memperoleh ampunan Allah SWT, apabila sebelum meninggal dunia ia tidak bertobat dengan tobat yang sesungguh-sungguhnya. (lihat Q.S. An-Nisa, 4: 48)

Selain itu, orang yang berperilaku syirik (musyrik) diharamkan masuk surga. (lihat Q.S. Al-Maidah, 5: 72)

c. Melandasi ibadah shalatnya dan semua ibadah lainnya dengan niat ikhlas untuk memperoleh rida Allah SWT semata, dan sama sekali tidak ada maksud untuk memperoleh sanjungan orang lain atau keuntungan dunia. Ia menyadari bahwa ibadah yang tidak dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT tentu tidak akan diterima-Nya.

Ia menyadari bahwa tujuan diciptakannya manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah semata. (lihat Q.S. Az-Zariyat, 51: 56)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar